Gefitinib untuk Kanker Paru dengan Mutasi EGFR

Dua pasien dapat sama-sama didiagnosis kanker paru, berada pada stadium yang sama, dan memiliki hasil pencitraan hampir serupa. Namun, terapi yang sesuai bagi keduanya belum tentu sama. Salah satu pasien mungkin memiliki mutasi genetik yang dapat ditargetkan dengan obat tertentu, sedangkan pasien lainnya tidak.

Perbedaan inilah yang menjadi dasar terapi presisi. Dalam pengobatan kanker paru, salah satu contoh yang paling dikenal adalah penggunaan gefitinib sebagai terapi presisi untuk kanker paru EGFR.

Gefitinib (Gefitero®) merupakan obat antikanker yang bekerja dengan menghambat sinyal pertumbuhan melalui epidermal growth factor receptor atau EGFR. Namun, obat ini tidak diberikan kepada semua pasien kanker paru. Penggunaannya terutama dipertimbangkan pada kanker paru bukan sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer/NSCLC) yang memiliki mutasi EGFR tertentu.

Mengenal Kanker Paru Bukan Sel Kecil

Kanker paru secara umum dibagi menjadi kanker paru sel kecil dan kanker paru bukan sel kecil atau non-small cell lung cancer yang sering disingkat NSCLC. Gefitinib terutama digunakan dalam konteks kanker paru bukan sel kecil.

NSCLC masih terdiri atas beberapa tipe histologis, termasuk adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, dan tipe lainnya. Untuk menentukan tipe tersebut, dokter biasanya memerlukan sampel jaringan atau sel yang kemudian diperiksa oleh dokter spesialis patologi.

Setelah jenis kanker diketahui, pasien akan menjalani evaluasi untuk menentukan stadium penyakit. Pemeriksaan ini menilai ukuran tumor, keterlibatan kelenjar getah bening, serta kemungkinan penyebaran ke organ lain.

Pada pasien yang memenuhi kriteria, sampel tumor juga diperiksa untuk mencari biomarker molekuler. Salah satu biomarker tersebut adalah mutasi EGFR. Informasi molekuler inilah yang kemudian dapat membantu dokter menentukan apakah terapi target seperti gefitinib layak dipertimbangkan.

Baca juga: Kenali Mutasi EGFR dan Pentingnya pada Terapi Kanker Paru

Apa Itu EGFR?

EGFR merupakan singkatan dari epidermal growth factor receptor. EGFR adalah protein pada permukaan sel yang berperan dalam menyampaikan sinyal pertumbuhan dari luar menuju bagian dalam sel.

Dalam kondisi normal, jalur ini membantu mengatur pertumbuhan, pembelahan, dan perbaikan sel. Namun, pada sebagian kanker paru, gen yang membawa instruksi pembentukan EGFR mengalami perubahan atau mutasi tertentu.

Mutasi tersebut dapat menyebabkan EGFR terus mengirimkan sinyal pertumbuhan meskipun sel tidak membutuhkannya. Akibatnya, sel kanker terus membelah, bertahan hidup, dan berkembang.

Apa Itu Gefitinib?

Gefitinib adalah obat antikanker oral yang termasuk dalam kelompok penghambat tirosin kinase EGFR atau EGFR tyrosine kinase inhibitor. Obat ini menghambat bagian tirosin kinase pada reseptor EGFR sehingga proses penyampaian sinyal pertumbuhan ke dalam sel dapat dikurangi.

Secara sederhana, EGFR dapat dibayangkan sebagai sakelar pertumbuhan. Pada tumor dengan mutasi tertentu, sakelar tersebut terus berada dalam posisi aktif. Gefitinib berusaha menghambat aktivitas sakelar itu agar sel kanker tidak terus menerima perintah untuk tumbuh.

Mekanisme gefitinib melibatkan persaingan dengan ATP pada domain tirosin kinase EGFR. Hambatan tersebut mengurangi fosforilasi reseptor dan menekan transmisi sinyal yang mendukung pertumbuhan tumor.

Karena EGFR berperan juga dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel kulit serta jaringan epitel, sehingga saat obat gefitinib menghambat EGFR, efek pada kulit dapat terjadi. Umumnya antara lain ruam seperti jerawat, kulit kering, kemerahan, dan perubahan pada kuku. Efek selama pengobatan gefitinib ini umumnya dapat diberikan penanganan yang sesuai dan terapi kanker tetap dapat dilanjutkan secara optimal.

Baca juga: HapOnco® Star Panel: Tes Genomik Penanganan yang Presisi

Mengapa Pemeriksaan EGFR Penting?

Pemeriksaan EGFR membantu dokter menilai apakah tumor memiliki target molekuler yang sesuai untuk terapi penghambat EGFR. Tanpa pemeriksaan tersebut, gefitinib tidak dapat dipilih secara benar-benar terarah.

Keberadaan protein EGFR saja tidak cukup untuk memastikan respons. Penelitian praklinis menunjukkan bahwa sensitivitas terhadap gefitinib lebih berkaitan dengan karakter genetik tertentu, termasuk mutasi EGFR, dibandingkan hanya dengan keberadaan protein EGFR pada permukaan sel.

Pemeriksaan EGFR dapat dilakukan menggunakan sampel jaringan dari biopsi atau tindakan medis lain. Dalam kondisi tertentu, materi genetik tumor yang beredar dalam darah juga dapat digunakan. Pemeriksaan menggunakan darah sering disebut sebagai biopsi cair.

Kesimpulan

Gefitinib sebagai terapi presisi untuk kanker paru EGFR menunjukkan bagaimana informasi molekuler dapat membantu dokter memilih pengobatan yang lebih terarah. Obat ini menghambat tirosin kinase EGFR dan terutama digunakan dalam konteks kanker paru bukan sel kecil dengan mutasi EGFR sensitif tertentu.

Referensi

  1. Syahruddin, E., et al. (2024). Efficacy of gefitinib versus erlotinib as first-line treatment in EGFR mutant advanced lung adenocarcinoma at RSP Dr. H. A. Rotinsulu. INAJCC: Indonesian Journal of Cancer Care, 3(2), 82.
  2. Song, R., et al. (2022). The Effect of Gefitinib on Treatment Necessity and Prognosis of NSCLC Patients with Early EGFR Mutations. Contrast Media & Molecular Imaging, 2022, 2228744.

Disclaimer
Informasi ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top