DNA dan Diagnosis Kanker: Mengenal Oncogenomics dengan Mudah

Hari ini, ada dua pasien yang datang ke poli onkologi. Kedua pasien berusia sekitar 50 tahun, keduanya didiagnosis kanker paru stadium IV, dan hasil radiologi X-ray serta CT scan kedua pasien terlihat mirip. Setelah satu jam berkonsultasi, satu pasien pulang dengan resep tablet obat kanker yang diminum sekali sehari di rumah. Namun, pasien lainnya dijadwalkan untuk infus obat kanker.

Dalam dunia onkologi medis, perbedaan tatalaksana atau pengobatan pasien tidak terletak pada stadium, usia, atau kondisi fisik. Terapi kanker yang berbeda-beda itu terjadi karena ada perbedaan dalam DNA kanker mereka.

Inilah inti dari oncogenomics bidang studi yang mempelajari perubahan pada DNA yang berhubungan dengan kanker dan bagaimana informasi terkait variasi gen ini dipakai untuk memilih jenis pengobatan.

Apa Itu Oncogenomics?

Oncogenomics adalah cabang ilmu yang mempelajari genom seluruh materi genetik pada sel kanker. Kata ini berasal dari dua bagian: onko yang berarti tumor, dan genomik yang berarti studi tentang keseluruhan DNA suatu organisme atau sel. Tujuannya sangat praktis: menemukan perubahan genetik mana yang benar-benar menyebabkan suatu pertumbuhan kanker, lalu mencari cara menghentikannya.

Namun, praktik klinisnya tidak semudah itu. Secara umum, tubuh kita memiliki mutasi-mutasi atau varian genetik yang dinamakan varian germline yang diturunkan dari orang tua kita (inherited). Pada kanker, mutasi ini 80–90% bukan merupakan varian germline, melainkan varian somatik (somatic), yaitu perubahan yang didapatkan pada sel setelah proses pembuahan dan tidak diwariskan. Varian ini didapatkan bisa karena penuaan, radiasi, rokok, makanan, dan gaya hidup (acquired).

DNA: Buku Resep dalam Setiap Sel

Jadi, bagaimana cara kita membaca DNA untuk kanker? Bayangkan DNA manusia sebagai buku resep raksasa yang ada di dalam inti setiap sel tubuh kita. Buku ini berisi instruksi lengkap: kapan sel harus tumbuh, kapan berhenti, kapan memperbaiki diri, dan kapan mati dengan sangat detail. Setiap “resep” dalam buku itu adalah sebuah gen. Berdasarkan National Human Genome Research Institute, manusia memiliki sekitar 19.900–20.000 gen.

Sepanjang hidup manusia, sel tubuh membelah miliaran kali. Setiap kali membelah, sel harus menyalin seluruh buku resep itu tanpa salah.

Proses penyalinan DNA sangat akurat, tetapi tidak sempurna. Setiap pembelahan sel berpotensi menghasilkan salah ketik kecil inilah yang disebut mutasi atau varian.

Sebagian besar mutasi justru tidak berbahaya. Sel tubuh memiliki gen yang bertugas memperbaiki kesalahan ketik ini. Nah, masalah akan muncul ketika salah ketik terjadi tepat pada resep yang mengatur pertumbuhan sel dan sistem perbaikannya ketika sedang rusak. Hal ini berulang, berulang, dan berulang, sehingga hasil akhirnya adalah timbulnya suatu kanker.

Bagaimana Cara Kerusakan DNA Memicu Kanker?

Kanker pada dasarnya adalah penyakit genomik atau berbasis DNA: sel kehilangan kendali atas pertumbuhannya sendiri karena instruksi/resepnya rusak.

Ada tiga kelompok gen yang paling sering terlibat. Mari kita simak analogi lalu lintas berikut sebagai jembatan keledai memahami oncogenomics:

  1. Onkogen (Oncogenes): Gen yang mendorong pertumbuhan sel. Dalam keadaan normal, gen ini sebenarnya berguna. Gen ini adalah gen yang bersifat onkogenik atau mendukung pertumbuhan kanker. Sehingga, jika mengalami mutasi, onkogen menjadi terlalu aktif dan memicu kanker. Bayangkan terdapat mobil yang dikendarai pengemudi ugal-ugalan. Akhirnya, pengemudi ini menyebabkan tabrakan beruntun, seperti pembelahan sel abnormal.Contoh onkogen tersering: EGFR, HER2, KRAS, dan BRAF.
  2. Gen Penekan Tumor (Tumor Suppressor Genes): Gen yang menghentikan pertumbuhan sel abnormal. Jika onkogen adalah gen pendorong kanker, ada gen penekan tumor yang berfungsi mengendalikan pertumbuhan sel yang abnormal. Sehingga, ketika gen ini rusak atau tidak berfungsi, sel kanker tidak bisa dimatikan dan tidak menjalani apoptosis.Di persimpangan, ada lampu merah yang bertugas menghentikan mobil-mobil agar tidak terjadi tabrakan. Lampu merah ini adalah gen penekan tumor. Sementara di sisi lain, lampu merah yang rusak menyebabkan jalanan kacau.Contoh gen penekan tumor: TP53, RB1, dan PTEN.
  3. Gen Perbaikan DNA (DNA Repair Gene Regulators): Gen yang memperbaiki kerusakan genetik. Gen perbaikan DNA berfungsi memperbaiki kesalahan. Jika mengalami gangguan, sel akan lebih mudah mengumpulkan mutasi berbahaya.Setiap 10.000 km terdapat jadwal rutin perbaikan mobil dan 2.000 km untuk motor. Servis ini diperuntukkan agar mobil dan motor berfungsi dengan baik dan tidak mogok di jalan. Servis yang tidak dilakukan dengan optimal menyebabkan kendaraan di jalan menjadi bom waktu untuk kejadian yang tidak diinginkan. Pemicunya banyak, mulai dari kelelahan pengemudi hingga kondisi lingkungan.Contoh: BRCA1, BRCA2, MSH2, dan MLH1.

Oncogenomics dan Stadium Kanker: Dua Informasi yang Berbeda

Banyak pasien mengira profil genomik menggantikan penentuan stadium. Keduanya tidak saling menggantikan. Penetapan stadium pada kanker menentukan: seberapa jauh kanker sudah menyebar, berapa ukuran tumor, bagaimana keterlibatan kelenjar getah bening, dan ada tidaknya metastasis.

Sedangkan profil genomik menjawab: apa yang memicu adanya kanker ini, apa kelemahannya yang bisa menjadi target terapi, obat apa yang cocok, dan apakah ini jenis kanker yang diturunkan atau tidak.

Untuk menentukan terapi terbaik, kedua hal ini perlu diperiksa. Sehingga, tidak bisa hanya tes genetik tanpa tes lab darah maupun radiologi.

Bagaimana Varian DNA Membantu Menentukan Obat Kanker?

Salah satu manfaat terbesar dari oncogenomics adalah kemampuannya membantu dokter memilih pengobatan yang lebih sesuai dengan karakteristik biologis kanker setiap pasien berdasarkan gen penyebab kankernya. Jika pada era yang lalu pengobatan kanker terutama ditentukan berdasarkan lokasi tumor, seperti kanker paru, kanker payudara, atau kanker usus, saat ini dokter juga mempertimbangkan perubahan genetik yang terdapat di dalam sel kanker untuk terapi yang lebih presisi.

Berdasarkan basis data (database) kanker internasional seperti NCCN, ESMO, dan ASCO, melalui pemeriksaan genomik, mutasi atau perubahan DNA tertentu yang menjadi “penggerak” pertumbuhan kanker dapat teridentifikasi dan dicocokkan dengan terapi yang paling sensitif, sehingga obat yang dipilih sudah lebih tepat dengan efek samping paling minimal. Informasi ini memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai cara kerja tumor dan membantu menentukan terapi yang memiliki peluang terbaik untuk memberikan manfaat bagi pasien.

Sayangnya, ketersediaan tes ini masih terbatas, begitupun dengan obat yang tersedia di Indonesia. Namun, mari kita berpikiran prospektif. Meskipun tidak ada obat di Indonesia, pasien tetap berhak mengetahui penyebab kankernya dan bisa mencegah timbulnya kanker yang serupa di keluarga.

“The absence of medication should not deny patients of their precise diagnosis.”

Di era pengobatan presisi, pemahaman tentang DNA telah menjadi bagian penting dalam cara dokter mendiagnosis, memahami, dan mengobati kanker. Perubahan pada DNA dapat memengaruhi munculnya kanker, respons terhadap obat, serta perjalanan penyakit pada berbagai stadium kanker. Dengan memanfaatkan ilmu oncogenomics, tim peneliti dan tenaga medis dapat mengembangkan strategi terapi yang lebih personal, berdasarkan karakteristik unik setiap pasien.

⚠️ Disclaimer
Informasi ini bertujuan untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top