Nutrigenomics: Ketika DNA Membantu Menentukan Pola Makan yang Tepat

Selama puluhan tahun, rekomendasi gizi dibuat berdasarkan pendekatan serupa untuk semua orang. Kita mengenal aturan umum seperti membatasi gula, memperbanyak sayur, atau mengurangi makanan tinggi lemak. Meski prinsip-prinsip tersebut tetap penting, kenyataannya rekomendasi gizi tidak bersifat one size fits all.

Ada orang yang mudah menurunkan berat badan dengan diet tertentu, sementara orang lain tidak mengalami perubahan berarti. Ada yang dapat mengonsumsi kopi beberapa kali sehari tanpa gangguan, tetapi ada pula yang mudah mengalami jantung berdebar atau sulit tidur walau hanya mengonsumsi sedikit kopi. Perbedaan ini sebagian besar dapat dijelaskan oleh satu faktor internal, yaitu faktor genetik.

Apa itu Nutrigenomics?

Secara sederhana, nutrigenomics adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara makanan dan gen. Ilmu ini berangkat dari pemahaman bahwa setiap orang memiliki susunan genetik yang unik. Perbedaan kecil dalam susunan DNA dapat memengaruhi bagaimana tubuh mencerna, menyerap, menyimpan, dan menggunakan nutrisi. Selain itu, nutrigenomics juga mempelajari bagaimana zat gizi tertentu dapat memengaruhi aktivitas gen dalam tubuh.

Sebagai contoh, dua orang dapat mengonsumsi makanan yang sama dengan kuantitas yang sama, tetapi tubuh mereka memberikan respons berbeda. Seseorang mungkin lebih mudah mengalami peningkatan kolesterol akibat pola makan tertentu, sementara orang lain tidak.

Karena itu, nutrigenomics sering disebut sebagai bagian dari precision nutrition (nutrisi presisi), yaitu pemberian rekomendasi gizi yang lebih personal menyesuaikan dengan profil gen masing-masing.

Baca juga: Solusi Diet Tepat

Nutrigenomics Semakin Populer

Popularitas nutrigenomics meningkat karena masyarakat semakin menyadari bahwa tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, nutrigenomics tidak lagi sekadar gagasan, melainkan berkembang menjadi layanan yang semakin mudah diakses.

Banyak layanan menawarkan pemeriksaan DNA yang diklaim dapat memberikan informasi mengenai metabolisme, satiety (rasa kenyang), sensitivitas terhadap kafein, toleransi terhadap karbohidrat, defisiensi vitamin tertentu, hingga kecenderungan peningkatan berat badan.

Meningkatnya prevalensi obesitas, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya juga membuat pendekatan nutrisi individual semakin diminati. Para peneliti melihat potensi nutrigenomics untuk membantu menciptakan strategi pencegahan dan pengelolaan penyakit yang lebih spesifik sesuai karakteristik biologis seseorang.

Baca juga: Mengapa Nutrigenomics Test dari TanyaDNA Penting

Bagaimana Nutrigenomics Bekerja?

Untuk memahami nutrigenomics, bayangkan DNA sebagai buku panduan biologis tubuh. Gen menyimpan informasi yang mengatur berbagai fungsi tubuh, mulai dari metabolisme lemak, pengolahan gula, hingga respons terhadap zat tertentu.

Makanan yang kita konsumsi tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga memengaruhi cara gen bekerja. Sebaliknya, variasi genetik tertentu memengaruhi cara tubuh merespons makanan.

Sebagai contoh, beberapa orang memiliki variasi pada gen laktase yang memicu kurangnya produksi enzim laktase untuk memecah laktosa pada susu. Akibatnya, terjadi lactose intolerance (intoleransi laktosa) yang kerap menimbulkan keluhan pencernaan seperti nyeri perut, kembung, hingga diare. Kondisi serupa juga dapat terjadi pada metabolisme gluten, lemak, folat, dan berbagai nutrisi lainnya.

Karena itu, nutrigenomics berupaya memahami dua arah hubungan tersebut: bagaimana gen memengaruhi respons terhadap nutrisi, serta bagaimana nutrisi memengaruhi aktivitas gen.

⚠️ Disclaimer:
Informasi ini bertujuan untuk edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top