{"id":7550,"date":"2026-10-10T15:05:44","date_gmt":"2026-10-10T08:05:44","guid":{"rendered":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/?p=7550"},"modified":"2026-10-14T15:16:03","modified_gmt":"2026-10-14T08:16:03","slug":"lived-experience-kesehatan-mental","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/","title":{"rendered":"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental?"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"569\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental-1024x569.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-7551\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental-1024x569.webp 1024w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental-300x167.webp 300w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental-767x426.webp 767w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp 1440w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kesehatan mental, kita sering berbicara tentang pentingnya pengetahuan: teori, penelitian, asesmen, diagnosis, maupun berbagai pendekatan psikologis yang digunakan untuk membantu seseorang. Semua itu penting. Namun, ada satu sumber pengetahuan yang terkadang terlupakan: pengalaman orang yang menjalaninya sendiri.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seseorang yang pernah mengalami depresi tahu bagaimana rasanya menjalani hari ketika hal-hal sederhana terasa begitu berat. Demikian pula, bagi seseorang yang hidup dengan kecemasan mungkin tahu bahwa rasa takut tidak selalu datang karena ada sesuatu yang benar-benar berbahaya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seseorang yang pernah berada dalam hubungan toksik mungkin memahami bahwa meninggalkan sebuah hubungan tidak selalu sesederhana nasihat klasik, <em>\u201cKalau tidak bahagia, ya pergi.\u201d<\/em> Pengalaman-pengalaman tersebut tidak selalu dapat sepenuhnya dijelaskan melalui teori.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, ketika seseorang berbicara tentang pengalaman kesehatan mentalnya, kita tidak sedang mendengarkan seseorang yang sekadar \u201cbercerita\u201d. Kita sedang mendengarkan seseorang yang memiliki pengetahuan tentang kehidupannya sendiri.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Mendengarkan Bukan Berarti Selalu Menyetujui\u00a0<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menghargai <em>lived experience<\/em> bukan berarti setiap interpretasi seseorang harus selalu dianggap benar. Bukan pula berarti peran profesional menjadi tidak penting. Justru sebaliknya. Profesional kesehatan mental memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk membantu seseorang memahami apa yang sedang terjadi, melihat pola yang mungkin belum terlihat, serta menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapinya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi proses tersebut akan jauh lebih bermakna ketika dilakukan <strong>bersama<\/strong>, bukan hanya kepada seseorang. Karena sebelum bertanya, <em>\u201cApa yang harus kita lakukan?\u201d<\/em>, mungkin ada pertanyaan yang tidak kalah penting:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Apa sebenarnya yang kamu alami?\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Apa yang membuatmu datang hari ini?&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Apa yang selama ini paling sulit?&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Apa yang sudah kamu coba?&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Apa yang kamu butuhkan, tetapi belum pernah benar-benar kamu dapatkan?&nbsp;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini memberi pesan bahwa seseorang bukan sekadar objek yang perlu \u201cdiperbaiki\u201d. Ia adalah manusia yang memiliki pengalaman, perspektif, pilihan, dan suara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Dari Didengar menjadi Perubahan\u00a0<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tema World Mental Health Day 2026, <em>\u201cLived experiences heard: real voices, real change,\u201d<\/em> mengingatkan kita bahwa mendengarkan pengalaman seseorang seharusnya tidak berhenti pada mendengarkan. Suara tersebut perlu menjadi bagian dari perubahan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam layanan kesehatan mental, misalnya, pengalaman klien dapat membantu kita memahami apakah sebuah layanan benar-benar terasa aman, relevan, dan membantu. Dalam keluarga, mendengarkan dapat mengubah cara kita memahami seseorang yang selama ini kita anggap \u201csulit\u201d. Di tempat kerja, pengalaman karyawan dapat menjadi pintu untuk melihat persoalan yang mungkin tidak muncul dalam angka atau laporan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebab terkadang, data memberi tahu kita apa yang terjadi. Tetapi pengalaman manusia membantu kita memahami bagaimana rasanya mengalami hal tersebut. Dan keduanya sama-sama penting.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin kita tidak selalu bisa memahami sepenuhnya apa yang sedang dialami orang lain. Namun kita selalu bisa memilih untuk tidak buru-buru menyimpulkan, dengan:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kita bisa bertanya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kita bisa mendengarkan.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Kita bisa memberi ruang.&nbsp;<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan ketika seseorang mulai berani menceritakan sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri, mungkin respons paling bermakna yang bisa kita berikan bukanlah jawaban yang sempurna, melainkan <strong>\u201cAku mendengarkan. Ceritakan padaku.\u201d<\/strong>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika pengalaman yang sedang kamu jalani terasa semakin berat, mengganggu keseharian, atau sudah terlalu lama dihadapi sendirian, tidak perlu menunggu sampai semuanya menjadi krisis untuk mencari bantuan. Berbicara dengan psikolog dapat menjadi ruang untuk memahami apa yang sedang terjadi, tanpa harus menghadapi semuanya seorang diri.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Karena meminta bantuan bukan berarti kamu tidak mampu. Terkadang, itu adalah cara untuk mulai memahami dirimu dengan lebih baik.<\/strong>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<div style=\"border-top-left-radius:16px;border-top-right-radius:16px;border-bottom-left-radius:16px;border-bottom-right-radius:16px;color:#0369a1;background-color:#e0f2fe;margin-top:var(--wp--preset--spacing--40);margin-right:var(--wp--preset--spacing--40);margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--40);margin-left:var(--wp--preset--spacing--40);padding-top:var(--wp--preset--spacing--40);padding-right:var(--wp--preset--spacing--40);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--40);padding-left:var(--wp--preset--spacing--40)\" class=\"wp-block-roelmagdaleno-callout-block has-text-color has-background is-layout-flex wp-container-roelmagdaleno-callout-block-is-layout-4b05851f wp-block-roelmagdaleno-callout-block-is-layout-flex\"><div>\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Disclaimer<\/strong>\u202f<br>Informasi ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.\u202f\u00a0<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbicara dengan psikolog dapat menjadi ruang untuk memahami apa yang sedang terjadi, tanpa harus menghadapi &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":18,"featured_media":7551,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"_zengeo_excluded":false,"_zengeo_faq":[],"_zengeo_takeaways":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-7550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental? -<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pentingnya Lived Experience (pengalaman pribadi) sebagai elemen diagnosis kesehatan mental\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental? -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pentingnya Lived Experience (pengalaman pribadi) sebagai elemen diagnosis kesehatan mental\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-10-10T08:05:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-10-14T08:16:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/013dfe6cf6eb3ad9b3058483f2cd1da7\"},\"headline\":\"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental?\",\"datePublished\":\"2026-10-10T08:05:44+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-14T08:16:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/\"},\"wordCount\":569,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/\",\"name\":\"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental? -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp\",\"datePublished\":\"2026-10-10T08:05:44+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-14T08:16:03+00:00\",\"description\":\"Pentingnya Lived Experience (pengalaman pribadi) sebagai elemen diagnosis kesehatan mental\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp\",\"width\":1440,\"height\":800},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/lived-experience-kesehatan-mental\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Tanyadna\",\"description\":\"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"alternateName\":\"Tanyadna\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Tanyadna\",\"alternateName\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/id\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"width\":2272,\"height\":756,\"caption\":\"Tanyadna\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/013dfe6cf6eb3ad9b3058483f2cd1da7\",\"name\":\"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/blog.tanyadna.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/cropped-Halida-Ulfah-M.Psi_.-Psikolog-Clinical-Psychologist-96x96.png\",\"url\":\"https:\\\/\\\/blog.tanyadna.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/cropped-Halida-Ulfah-M.Psi_.-Psikolog-Clinical-Psychologist-96x96.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/blog.tanyadna.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/cropped-Halida-Ulfah-M.Psi_.-Psikolog-Clinical-Psychologist-96x96.png\",\"caption\":\"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/author\\\/halida-ulfah\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental? -","description":"Pentingnya Lived Experience (pengalaman pribadi) sebagai elemen diagnosis kesehatan mental","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental? -","og_description":"Pentingnya Lived Experience (pengalaman pribadi) sebagai elemen diagnosis kesehatan mental","og_url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/","article_published_time":"2026-10-10T08:05:44+00:00","article_modified_time":"2026-10-14T08:16:03+00:00","og_image":[{"width":1440,"height":800,"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/"},"author":{"name":"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/013dfe6cf6eb3ad9b3058483f2cd1da7"},"headline":"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental?","datePublished":"2026-10-10T08:05:44+00:00","dateModified":"2026-10-14T08:16:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/"},"wordCount":569,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp","inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/","name":"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental? -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp","datePublished":"2026-10-10T08:05:44+00:00","dateModified":"2026-10-14T08:16:03+00:00","description":"Pentingnya Lived Experience (pengalaman pribadi) sebagai elemen diagnosis kesehatan mental","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#primaryimage","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Mengapa-Lived-Experience-Penting-dalam-Kesehatan-Mental.webp","width":1440,"height":800},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/lived-experience-kesehatan-mental\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengapa Lived Experience Penting dalam Kesehatan Mental?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","name":"Tanyadna","description":"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik","publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"alternateName":"Tanyadna","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization","name":"Tanyadna","alternateName":"https:\/\/tanyadna.id\/id\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","width":2272,"height":756,"caption":"Tanyadna"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/013dfe6cf6eb3ad9b3058483f2cd1da7","name":"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/cropped-Halida-Ulfah-M.Psi_.-Psikolog-Clinical-Psychologist-96x96.png","url":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/cropped-Halida-Ulfah-M.Psi_.-Psikolog-Clinical-Psychologist-96x96.png","contentUrl":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/cropped-Halida-Ulfah-M.Psi_.-Psikolog-Clinical-Psychologist-96x96.png","caption":"Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog"},"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/author\/halida-ulfah\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/18"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7550"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7550\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7565,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7550\/revisions\/7565"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}