{"id":7528,"date":"2026-09-28T15:41:15","date_gmt":"2026-09-28T08:41:15","guid":{"rendered":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/?p=7528"},"modified":"2026-10-01T15:41:30","modified_gmt":"2026-10-01T08:41:30","slug":"simvastatin-farmakogenomik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/","title":{"rendered":"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"569\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin-1024x569.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-7529\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin-1024x569.webp 1024w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin-300x167.webp 300w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin-767x426.webp 767w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin.webp 1440w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Simvastatin adalah salah satu obat kolesterol yang cukup dikenal dan sering digunakan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol LDL atau \u201ckolesterol jahat\u201d. Namun, seperti obat lain, respons tubuh terhadap Simvastatin tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian pasien dapat memetabolisasikan Simvastatin dengan baik, sementara sebagian lain mengalami keluhan otot seperti nyeri, lemah, kram, atau rasa tidak nyaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam dunia medis, kondisi ini sering masuk dalam kelompok <em>statin-associated muscle symptoms\/myopathy<\/em> atau SAMS. Faktor genetik, terutama variasi pada gen <em>SLCO1B1<\/em>, dapat memengaruhi bagaimana tubuh memproses Simvastatin dan seberapa besar risiko seseorang mengalami efek samping otot.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/kadar-kolesterol-normal\/\">Kadar Kolesterol Normal<\/a><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Simvastatin?<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Simvastatin adalah obat golongan statin yang digunakan untuk mengelola kadar kolesterol dan menurunkan risiko kejadian kardiovaskular pada pasien tertentu. Obat ini membantu menurunkan LDL-C, yaitu jenis kolesterol yang berkaitan dengan pembentukan plak lemak yang menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Obat ini juga dikenal secara generik atau dengan merek dagang tertentu. Dalam praktik medis, Simvastatin bekerja dengan menghambat enzim <em>HMG-CoA reductase<\/em>, sehingga produksi kolesterol di hati dapat berkurang.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Peran Gen <em>SLCO1B1<\/em><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gen <em>SLCO1B1<\/em> memberikan instruksi untuk membuat protein <em>transporter<\/em> yang disebut OATP1B1. Protein ini terdapat di sel hati dan membantu membawa berbagai senyawa dari darah masuk ke hati untuk diproses atau dikeluarkan dari tubuh. OATP1B1 membantu mengangkut senyawa dari darah ke hati agar dapat dibersihkan dari tubuh, termasuk bilirubin, hormon, toksin, dan obat-obatan seperti statin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada sebagian orang, terdapat variasi genetik pada <em>SLCO1B1<\/em> yang membuat fungsi <em>transporter<\/em> ini berkurang. Bila <em>transporter<\/em> bekerja kurang optimal, statin tertentu, termasuk Simvastatin, dapat berada dalam kadar lebih tinggi di sirkulasi. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko efek samping otot.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Variasi <em>SLCO1B1<\/em> yang paling banyak dipelajari, yaitu <em>SLCO1B1*15<\/em> dan <em>SLCO1B1*5<\/em> yang mewakili dua mutasi yaitu N130D dan V174A, yang menyebabkan protein <em>transporter<\/em> kurang mampu mengangkut senyawa ke hati sehingga menurunkan <em>clearance<\/em> obat sehingga kadar obat meningkat pada sirkulasi darah. Secara signifikan juga dapat meningkatkan kejadian efek samping berupa toksisitas yaitu SAMS\/<em>statin-induced myopathy<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/gejala-kolesterol\/\">6 Gejala Kolesterol Naik yang Sering Tak Disadari<\/a><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Hubungan Gen <em>SLCO1B1<\/em> dengan Efek Samping Simvastatin<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Efek samping otot adalah salah satu alasan mengapa sebagian pasien menghentikan statin. Gejalanya dapat berupa nyeri otot, lemah otot, kram, rasa pegal, atau dalam kasus berat dapat berkembang menjadi <em>rhabdomyolysis<\/em>, yaitu kerusakan otot berat yang dapat berdampak pada ginjal. Dalam konteks obat Simvastatin, hubungan antara mutasi <em>SLCO1B1<\/em> dan konsumsi obat Simvastatin yang meningkatkan risiko kerusakan otot termasuk salah satu contoh paling kuat dalam dunia farmakogenomik.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Tes Farmakogenomik Simvastatin<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tes DNA sensitivitas obat untuk Simvastatin adalah pemeriksaan genetik yang melihat variasi pada gen yang berkaitan dengan respons terhadap statin, terutama gen <em>SLCO1B1<\/em>. Pemeriksaan ini termasuk dalam ranah farmakogenomik, yaitu bidang ilmu yang mempelajari bagaimana gen memengaruhi respons tubuh terhadap obat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil tes biasanya tidak sekadar mengatakan \u201ccocok\u201d atau \u201ctidak cocok\u201d. Hasilnya lebih tepat dipahami sebagai informasi risiko toksisitas yang meningkat atau efektivitas yang menurun. Misalnya, seseorang dapat dikategorikan memiliki fungsi <em>SLCO1B1<\/em> normal, menurun, atau buruk. Kategori ini kemudian dapat membantu dokter mempertimbangkan pilihan statin dan dosis yang lebih sesuai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Simvastatin adalah salah satu contoh nyata bagaimana farmakogenomik dapat membantu pengobatan menjadi lebih personal. Tidak semua pasien membutuhkan obat atau dosis yang sama. Pada sebagian orang, variasi genetik dapat memberikan petunjuk mengenai risiko efek samping yang lebih tinggi, terutama terkait gejala otot.<\/p>\n\n\n\n<div style=\"border-top-left-radius:16px;border-top-right-radius:16px;border-bottom-left-radius:16px;border-bottom-right-radius:16px;color:#0369a1;background-color:#e0f2fe;margin-top:var(--wp--preset--spacing--40);margin-right:var(--wp--preset--spacing--40);margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--40);margin-left:var(--wp--preset--spacing--40);padding-top:var(--wp--preset--spacing--40);padding-right:var(--wp--preset--spacing--40);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--40);padding-left:var(--wp--preset--spacing--40)\" class=\"wp-block-roelmagdaleno-callout-block has-text-color has-background is-layout-flex wp-container-roelmagdaleno-callout-block-is-layout-4b05851f wp-block-roelmagdaleno-callout-block-is-layout-flex\"><div>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u26a0\ufe0f <strong>Disclaimer<\/strong><br>Informasi ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.<\/p>\n<\/div><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Simvastatin adalah salah satu contoh nyata bagaimana farmakogenomik dapat membantu pengobatan menjadi lebih personal. <\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":7529,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"_zengeo_excluded":false,"_zengeo_faq":[],"_zengeo_takeaways":[],"footnotes":""},"categories":[991],"tags":[],"class_list":["post-7528","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pharmacogenomics"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1 -<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Simvastatin dapat bekerja berbeda karena faktor genetik. Kenali gen SLCO1B1, efek samping, dan tes farmakogenomik.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1 -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Simvastatin dapat bekerja berbeda karena faktor genetik. Kenali gen SLCO1B1, efek samping, dan tes farmakogenomik.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-28T08:41:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-10-01T08:41:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/058c1d21e8715c4d9f9baeb05f38ae6a\"},\"headline\":\"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1\",\"datePublished\":\"2026-09-28T08:41:15+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-01T08:41:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/\"},\"wordCount\":585,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Simvastatin.webp\",\"articleSection\":[\"pharmacogenomics\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/\",\"name\":\"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1 -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Simvastatin.webp\",\"datePublished\":\"2026-09-28T08:41:15+00:00\",\"dateModified\":\"2026-10-01T08:41:30+00:00\",\"description\":\"Simvastatin dapat bekerja berbeda karena faktor genetik. Kenali gen SLCO1B1, efek samping, dan tes farmakogenomik.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Simvastatin.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Simvastatin.webp\",\"width\":1440,\"height\":800},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/simvastatin-farmakogenomik\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Tanyadna\",\"description\":\"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"alternateName\":\"Tanyadna\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Tanyadna\",\"alternateName\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/id\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"width\":2272,\"height\":756,\"caption\":\"Tanyadna\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/058c1d21e8715c4d9f9baeb05f38ae6a\",\"name\":\"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/blog.tanyadna.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/cropped-Gsilab@2026-96x96.png\",\"url\":\"https:\\\/\\\/blog.tanyadna.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/cropped-Gsilab@2026-96x96.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/blog.tanyadna.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/cropped-Gsilab@2026-96x96.png\",\"caption\":\"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/author\\\/zoya-adyasa\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1 -","description":"Simvastatin dapat bekerja berbeda karena faktor genetik. Kenali gen SLCO1B1, efek samping, dan tes farmakogenomik.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1 -","og_description":"Simvastatin dapat bekerja berbeda karena faktor genetik. Kenali gen SLCO1B1, efek samping, dan tes farmakogenomik.","og_url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/","article_published_time":"2026-09-28T08:41:15+00:00","article_modified_time":"2026-10-01T08:41:30+00:00","og_image":[{"width":1440,"height":800,"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin.webp","type":"image\/webp"}],"author":"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/"},"author":{"name":"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/058c1d21e8715c4d9f9baeb05f38ae6a"},"headline":"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1","datePublished":"2026-09-28T08:41:15+00:00","dateModified":"2026-10-01T08:41:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/"},"wordCount":585,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin.webp","articleSection":["pharmacogenomics"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/","name":"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1 -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin.webp","datePublished":"2026-09-28T08:41:15+00:00","dateModified":"2026-10-01T08:41:30+00:00","description":"Simvastatin dapat bekerja berbeda karena faktor genetik. Kenali gen SLCO1B1, efek samping, dan tes farmakogenomik.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#primaryimage","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin.webp","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Simvastatin.webp","width":1440,"height":800},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/simvastatin-farmakogenomik\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Simvastatin dan Efek Samping Nyeri Otot: Peran gen SLCO1B1"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","name":"Tanyadna","description":"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik","publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"alternateName":"Tanyadna","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization","name":"Tanyadna","alternateName":"https:\/\/tanyadna.id\/id\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","width":2272,"height":756,"caption":"Tanyadna"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/058c1d21e8715c4d9f9baeb05f38ae6a","name":"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/cropped-Gsilab@2026-96x96.png","url":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/cropped-Gsilab@2026-96x96.png","contentUrl":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/cropped-Gsilab@2026-96x96.png","caption":"dr. Zoya Marie Adyasa, M.Res"},"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/author\/zoya-adyasa\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7528","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7528"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7528\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7540,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7528\/revisions\/7540"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7529"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7528"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7528"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7528"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}