{"id":2863,"date":"2022-03-30T13:53:44","date_gmt":"2022-03-30T13:53:44","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/?p=2863"},"modified":"2022-03-30T13:53:03","modified_gmt":"2022-03-30T13:53:03","slug":"reinfeksi-omicron","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/","title":{"rendered":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus reinfeksi Omicron semakin banyak ditemukan. Hal ini jadi pertanda pandemi Covid-19 masih ada. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi dan apa sebaiknya yang perlu kita lakukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah reinfeksi belakangan ini menjadi familiar seiring dengan maraknya kasus positif Covid-19 yang dialami oleh seseorang yang sebelumnya sudah pernah terjangkit. Termasuk juga mereka yang sudah menjalani vaksinasi tahap kedua. Merujuk kepada para pakar ternyata fenomena reinfeksi Omicron ini adalah sesuatu yang memang bisa terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang dijelaskan oleh dokter spesialis paru, Dr. dr. Erlina Burhan, M.sc, Sp.P(K), ia mengatakan bahwa kasus reinfeksi Omicron bisa terjadi kepada penyintas yang pernah terinfeksi Covid-19 varian apa pun. Hal ini salah satunya disebabkan salah satu sifat varian Omicron yang memiliki kemampuan escape immunity atau bisa mengelabui sistem kekebalan tubuh.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapat para ahli mengenai reinfeksi Omicron<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain yang dipaparkan oleh dokter Erlina, para ahli yang lain juga mengemukakan hal yang senada. Misalnya Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RSUP Persahabatan, dr Prasenohadi, SpP, KIC, PhD. Ia mengatakan jika pada kasus Omicron seseorang bisa mengalami infeksi kembali atau reinfeksi.<\/span><\/p>\n<p><figure id=\"attachment_2865\" aria-describedby=\"caption-attachment-2865\" style=\"width: 1920px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2865\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-reinfeksi-Omicron.jpg\" alt=\"Ilustrasi reinfeksi Omicron\" width=\"1920\" height=\"1280\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-reinfeksi-Omicron.jpg 1920w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-reinfeksi-Omicron-300x200.jpg 300w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-reinfeksi-Omicron-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-reinfeksi-Omicron-768x512.jpg 768w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-reinfeksi-Omicron-1536x1024.jpg 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2865\" class=\"wp-caption-text\">[<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/Dd6St65dfYw\">Sumber gambar<\/a>]<\/figcaption><\/figure><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebabnya menurut dr Prasenohadi adalah ketika seseorang divaksinasi maka antibodi akan bisa melihat virus yang sedang dihadapi. Namun seiring berjalannya waktu antibodi tersebut akan berkurang, sehingga ada potensi untuk kembali terinfeksi. Fenomena ini menurut di Prasenohadi bisa ditangani dengan pemberian booster vaksin Covid-19.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih tentang reinfeksi Omicron, sebuah studi dilakukan oleh Imperial College London dan menghasilkan sesuatu yang cukup mengagetkan. Dikatakan pada studi tersebut bahwa reinfeksi Omicron lima kali lebih tinggi daripada varian lainnya. Hal ini memang terbukti pada kasus positif yang terjadi di berbagai belahan dunia.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Gejala reinfeksi Omicron<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para ahli mengatakan jika gejala reinfeksi Omicron tidak jauh berbeda dibandingkan ketika terkena pertama kali. Jika Anda pernah dinyatakan positif untuk varian Omicron, kemudian mengalami beberapa tanda ini, maka sebaiknya segera memeriksakan diri.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_2866\" aria-describedby=\"caption-attachment-2866\" style=\"width: 1920px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2866\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-sakit-kepala-Omicron.jpg\" alt=\"Ilustrasi sakit kepala Omicron\" width=\"1920\" height=\"1280\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-sakit-kepala-Omicron.jpg 1920w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-sakit-kepala-Omicron-300x200.jpg 300w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-sakit-kepala-Omicron-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-sakit-kepala-Omicron-768x512.jpg 768w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Ilustrasi-sakit-kepala-Omicron-1536x1024.jpg 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2866\" class=\"wp-caption-text\">[<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/SMI1NhNXszc\">Sumber gambar<\/a>]<\/figcaption><\/figure>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">1. Sakit kepala<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanda ini umum terjadi ketika mengalami reinfeksi Omicron. Untuk reaksi sakit kepalanya sendiri pun beragam. Misalnya nyeri sedang hingga berat, kepala terasa berdenyut hingga menusuk, hingga sakit kepala di kedua sisi. Biasanya sakit kepala ini akan dirasakan lebih dari tiga hari dan agak susah ditangani dengan obat sakit biasa.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">2. Pilek<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain sakit kepala, tanda reinfeksi Omicron yang paling sering dilaporkan adalah pilek. Tidak ada indikasi khusus untuk pileknya. Hanya saja ketika mengalami ini dalam waktu yang lama maka patut dicurigai sebagai gejala reinfeksi Omicron.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400;\">3. Sakit tenggorokan<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak laporan untuk kasus reinfeksi Omicron, gejala yang juga sering timbul adalah sakit tenggorokan. Biasanya ini berbarengan dengan pilek serta batuk. Namun umumnya sakit tenggorokan yang dirasakan cenderung ringan. Jika mengalami kasus sakit tenggorokan yang menyakitkan bisa jadi ini adalah kondisi kesehatan lain dan perlu segera memeriksakan diri ke dokter.<\/span><\/p>\n<h3>4. Batuk<\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batuk menjadi tanda lazim bagi seseorang terindikasi positif Covid-19, bahkan sejak awal pandemi. Untuk mereka yang mengalami reinfeksi Omicron kurang lebih juga serupa. Biasanya untuk batuk yang terjadi adalah tipe batuk kering alih-alih berdahak dan gejala ini bisa berlangsung selama empat hingga lima hari.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Pencegahan terhadap reinfeksi Omicron<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Reinfeksi Omicron memang lazim terjadi tapi bukan berarti sama sekali tidak bisa dihindari. Kita tetap mampu melakukan upaya agar hal tersebut tidak terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama tentu adalah konsisten dengan protokol kesehatan yang digaungkan pemerintah sejak awal. Seperti yang kita tahu jika varian Omicron penyebaran jauh lebih cepat dan masif jika dibandingkan jenis sebelumnya. Maka untuk mencegah kita tertular atau terkena kembali adalah dengan mengetatkan protokol kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><figure id=\"attachment_2867\" aria-describedby=\"caption-attachment-2867\" style=\"width: 1335px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2867\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Patuhi-protokol-kesehatan.jpg\" alt=\"Patuhi protokol kesehatan\" width=\"1335\" height=\"1999\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Patuhi-protokol-kesehatan.jpg 1335w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Patuhi-protokol-kesehatan-200x300.jpg 200w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Patuhi-protokol-kesehatan-684x1024.jpg 684w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Patuhi-protokol-kesehatan-768x1150.jpg 768w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Patuhi-protokol-kesehatan-1026x1536.jpg 1026w\" sizes=\"(max-width: 1335px) 100vw, 1335px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2867\" class=\"wp-caption-text\">[<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/yAXbfq1wI7I\">Sumber gambar<\/a>]<\/figcaption><\/figure><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua adalah selalu memastikan kita beristirahat dengan cukup. Terutama untuk tidur malam yang jika waktunya minim maka sedikit banyak akan berpengaruh kepada kondisi imun kita. Selagi tidak beraktivitas dan butuh beristirahat maka disarankan untuk kita lakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga adalah konsumsi makanan dan gizi yang seimbang. Ini penting untuk memperkuat kita dari dalam. Asupan vitamin juga tak kalah penting untuk menjaga diri kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat adalah melakukan olahraga secara rutin. Hal ini bisa membuat metabolisme tubuh kita lebih baik yang secara berkesinambungan membangun kesehatan kita juga.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Reinfeksi Omicron, vaksin masih penting?<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu pertanyaan ini sering ditanyakan mengingat banyak kasus reinfeksi Omicron dialami oleh mereka yang sudah melakukan vaksinasi. Jawabannya adalah vaksin tetap penting bagi kita untuk melawan virus.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2123\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/WhatsApp-Image-2022-01-20-at-3.29.15-PM.jpeg\" alt=\"Infografis Tentang Omicron Indonesia - GSI\" width=\"904\" height=\"1280\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/WhatsApp-Image-2022-01-20-at-3.29.15-PM.jpeg 904w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/WhatsApp-Image-2022-01-20-at-3.29.15-PM-212x300.jpeg 212w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/WhatsApp-Image-2022-01-20-at-3.29.15-PM-723x1024.jpeg 723w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/WhatsApp-Image-2022-01-20-at-3.29.15-PM-768x1087.jpeg 768w\" sizes=\"(max-width: 904px) 100vw, 904px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini dijelaskan oleh Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi, Iris Rengganis. Ia mengatakan meskipun banyak orang yang terkena Omicron meskipun sudah vaksin, bukan berarti vaksin tersebut tidak ada gunanya. Justru adanya vaksin menghindarkan seseorang dari keparahan penyakit hingga ancaman potensi Kematian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi bisa dikatakan vaksin masih jadi salah satu faktor kita bisa terhindar dari reinfeksi Omicron. Bahkan booster disebut seperti memperbaharui imunitas kita ketika vaksin satu dan dua mulai menurun performanya di dalam tubuh.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Selalu cek diri dengan Swab dan PCR<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada salahnya untuk selalu memastikan diri kita bebas dari virus. Caranya tentu adalah dengan melakukan tes Swab dan PCR. Hasil ini akan jadi modal penting untuk aksi kita selanjutnya. Jika negatif maka kita bisa lebih lega dan aman dalam keseharian. Jika hasilnya positif, maka kita bisa menghindari untuk menulari orang lain.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/gejala-stealth-omicron\/\">Gejala Sub Varian Stealth Omicron yang Perlu Anda Ketahui<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">GSI bisa jadi salah satu pilihan untuk Anda melakukan tes Swab dan PCR. Hasilnya akurat dan bisa didapatkan dalam waktu yang relatif cepat. Kita juga bisa membantu saudara-saudara dengan donasi menyediakan tes gratis melalui link berikut ini <\/span><a href=\"https:\/\/www.gsilab.id\/id\/swab-save\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.gsilab.id\/id\/swab-save\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kasus reinfeksi Omicron semakin banyak ditemukan. Hal ini jadi pertanda pandemi Covid-19 masih ada. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2864,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"_zengeo_excluded":false,"_zengeo_faq":[],"_zengeo_takeaways":[],"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[235,386,219,343,245],"class_list":["post-2863","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-covid19","tag-bahaya-omicron","tag-covid-19","tag-omicron","tag-varian-virus-corona"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi -<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-03-30T13:53:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"gilang Ayu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"gilang Ayu\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"gilang Ayu\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac\"},\"headline\":\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi\",\"datePublished\":\"2022-03-30T13:53:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/\"},\"wordCount\":895,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg\",\"keywords\":[\"#Covid19\",\"bahaya omicron\",\"covid-19\",\"omicron\",\"varian virus corona\"],\"articleSection\":[\"Berita\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/\",\"name\":\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg\",\"datePublished\":\"2022-03-30T13:53:44+00:00\",\"description\":\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/03\\\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1280,\"caption\":\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/reinfeksi-omicron\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Tanyadna\",\"description\":\"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"alternateName\":\"Tanyadna\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Tanyadna\",\"alternateName\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/id\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"width\":2272,\"height\":756,\"caption\":\"Tanyadna\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac\",\"name\":\"gilang Ayu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi\",\"caption\":\"gilang Ayu\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/author\\\/gilang\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi -","description":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi -","og_description":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi","og_url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/","article_published_time":"2022-03-30T13:53:44+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1280,"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"gilang Ayu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"gilang Ayu","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/"},"author":{"name":"gilang Ayu","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac"},"headline":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi","datePublished":"2022-03-30T13:53:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/"},"wordCount":895,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg","keywords":["#Covid19","bahaya omicron","covid-19","omicron","varian virus corona"],"articleSection":["Berita"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/","name":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg","datePublished":"2022-03-30T13:53:44+00:00","description":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#primaryimage","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tentang-Reinfeksi-Omicron-dan-Kenapa-Hal-Tersebut-Bisa-Terjadi.jpg","width":1920,"height":1280,"caption":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/reinfeksi-omicron\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","name":"Tanyadna","description":"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik","publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"alternateName":"Tanyadna","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization","name":"Tanyadna","alternateName":"https:\/\/tanyadna.id\/id\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","width":2272,"height":756,"caption":"Tanyadna"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac","name":"gilang Ayu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi","caption":"gilang Ayu"},"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/author\/gilang\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2863","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2863"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2863\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2869,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2863\/revisions\/2869"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2864"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}