{"id":2475,"date":"2022-02-21T14:31:37","date_gmt":"2022-02-21T14:31:37","guid":{"rendered":"https:\/\/blog.tanyadna.id\/?p=2475"},"modified":"2022-02-21T14:31:37","modified_gmt":"2022-02-21T14:31:37","slug":"bahaya-omicron","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/","title":{"rendered":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski menjadi varian yang fatality ratenya tergolong ringan, perlu kita ketahui bahaya Omicron. Ada beberapa yang termasuk dalam golongan rentan risiko, seperti lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit bawaan, serta mereka yang belum mendapatkan vaksin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa orang memang belum mendapatkan vaksin karena kondisi tubuh yang belum memungkinkan. Di antaranya ada penyakit bawaan atau kondisi tubuh seperti tekanan darah tinggi atau gula darah tinggi. Namun, bagi mereka yang sehat dan mampu vaksin, sebaiknya menyegerakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Epidemiolog dan WHO, ada bahaya yang perlu menjadi kewaspadaan masyarakat yang belum melakukan vaksin. Hal ini dengan mempelajari kasus-kasus di negara lain yang saat mengalami lonjakan kasus, lebih dari 50% warganya belum mendapatkan vaksin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang kita tidak mungkir bahwa saat ini ada banyak sudut pandang yang membuat vaksinasi Covid-19 tidak berjalan lancar. Bukan hanya pada masa ini, beberapa vaksin untuk penyakit lainnya juga sempat mengalami pro dan kontra. Nah, agar tidak simpang siur, kita bisa mencoba untuk menyimak penjelasan berikut.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Bahaya Omicron mengintai negara yang vaksinasinya rendah<\/span><\/h2>\n<p><figure id=\"attachment_2477\" aria-describedby=\"caption-attachment-2477\" style=\"width: 800px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2477\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Tedros-Ketua-WHO-tentang-bahaya-Omicron.jpg\" alt=\"Tedros - Ketua WHO tentang bahaya Omicron\" width=\"800\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Tedros-Ketua-WHO-tentang-bahaya-Omicron.jpg 800w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Tedros-Ketua-WHO-tentang-bahaya-Omicron-300x150.jpg 300w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Tedros-Ketua-WHO-tentang-bahaya-Omicron-768x384.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2477\" class=\"wp-caption-text\">[<a href=\"https:\/\/dunia.rmol.id\/read\/2021\/05\/04\/486506\/lengser-tahun-depan-kepala-who-tedros-adhanom-ghebreyesus-incar-masa-jabatan-kedua\">Sumber gambar<\/a>]<\/figcaption><\/figure><span style=\"font-weight: 400;\">Tedros Adhanom Ghebreyesus, selaku kepala WHO memaparkan bahwa Omicron lebih bahaya kepada mereka yang belum vaksin. Tedros menyatakan bahwa sebagian besar pasien seluruh dunia yang rawat inap di rumah sakit adalah mereka yang belum vaksin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Prof. Mark Woolhouse dari Edinburgh, dan mendapat dukungan dari Prof. Lawrence Young dari Warwick, mengingatkan warga tidak boleh lengah. Menurut Mark, Omicron ternyata bukan dari pohon keluarga yang sama dengan Delta. Keduanya juga melihat bahwa publik menganggap mutasi ini berjalan linier dari Alpha, Beta, Delta dan Omicron. Padahal kondisinya tidak sesederhana itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masa mendatang, berpotensi ada varian lain yang bisa jauh lebih berbahaya. Hal ini seperti lansiran dari Guardian, di mana keduanya menanggapi sikap Inggris yang sudah mencabut pembatasan masyarakatnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Bahaya Omicron menurut epidemiolog<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjelasan di atas juga senada dengan penjelasan pakar epidemi dari Griffith, Dicky Budiman. Sejak melihat perilaku masyarakat yang semakin longgar dan seperti menganggap Corona sudah melemah dengan adanya Omicron, ia meluruskan bahwa Omicron dan Delta adalah dua situasi yang berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Omicron muncul dalam kondisi banyak warga yang sudah mengambil jatah vaksin mereka. Sementara varian Delta hadir ketika vaksin belum menyeluruh seperti sekarang. Sebagai gambaran, ia memaparkan keadaan negara yang imunitas dan vaksinnya kurang, malah cukup kesulitan menghadapi Omicron ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya di Australia, yang menurut catatan Bloomberg, Indonesia lebih unggul hadapi Omicron daripada di sana. Dicky menjelaskan bahwa sebulan sebelum Omicron, angka BOR (bed occupancy rate di sana hampir tidak ada. Namun, kini hampir setiap hari selalu ada rawat inap. Angka kematian yang tadinya terakumulasi dalam dua tahun, kini bisa terjadi dalam hitungan hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Eropa dan Amerika, Omicron bisa menjangkiti orang lansia atau anak-anak yang belum vaksin, serta orang yang sedang menunggu vaksin kedua mereka dalam rentang 6 bulan. Jadi, sampai di sini sudah cukup menjelaskan urgensi dari menyegerakan vaksin bila kondisi kita memungkinkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan varian penutup, sudah ada varian lain yang jadi fokus penelitian<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak Bill Gates memperkirakan bahwa setelah Omicron maka Covid akan menjadi seperti flu musiman, muncul anggapan kalau varian ini akan menjadi pamungkas. Namun kabar terbaru dari WHO menyatakan bahwa, kini sudah ada subvarian BA.2 dari \u2018keturunan\u2019 Omicron yang penularannya lebih kuat. Saat ini varian tersebut masih dalam pendalaman dan penelitian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fase Omicron memang sempat adem-adem saja, akan tetapi epidemiolog dalam dan luar negeri, semua satu suara dalam mengingatkan bahwa setiap varian ini akan tetap memiliki risiko fatal pada mereka yang belum vaksin, lansia, dan pemilik sakit bawaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar simpang siur tentang vaksin<\/span><\/h2>\n<p><figure id=\"attachment_2478\" aria-describedby=\"caption-attachment-2478\" style=\"width: 702px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2478\" src=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Ilustrasi-menerima-vaksin.jpeg\" alt=\"Ilustrasi menerima vaksin\" width=\"702\" height=\"465\" srcset=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Ilustrasi-menerima-vaksin.jpeg 702w, https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Ilustrasi-menerima-vaksin-300x199.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 702px) 100vw, 702px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2478\" class=\"wp-caption-text\">[<a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/ketahui-manfaat-vaksin-booster-untuk-tubuh\">Sumber gambar<\/a>]<\/figcaption><\/figure><span style=\"font-weight: 400;\">Vaksin di Indonesia dan beberapa negara lainnya, termasuk Amerika Serikat, memang menuai pro dan kontra. Meski bukan pertama kalinya masyarakat dunia berdebat karena vaksin sepanjang sejarah keilmuan, namun kali ini situasinya berlomba-lomba dengan angka kematian yang sempat melejit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar mengenai adanya microchip dalam vaksin atau pemberian vaksin yang malah membuat sakit dan menyebabkan kematian merupakan yang paling marak. Narasi di berbagai media dan tersebar melalui grup chat, akhirnya melahirkan keengganan untuk vaksin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada bulan Januari 2022, Indonesia sudah mencapai angka 166 juta sasaran vaksin, dan masih akan terus bertambah. Komnas KIPI telah menyatakan bahwa tidak ada peserta vaksin yang meninggal dunia karena vaksin. Beberapa kasus kematian yang muncul, telah mendapat klarifikasi berupa adanya penyakit bawaan atau kondisi penyakit lainnya, seperti demam berdarah. Kondisi ini dinamakan KIPI koinsiden.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KIPI koinsiden bisa terjadi bila tubuh memang sudah memiliki keadaan dasar yang tidak sehat, meski bukan penyakit bawaan. Misalnya pada kasus kematian anak di Sumatera Utara beberapa waktu lalu setelah vaksin, mendatangkan 4 dokter untuk menelaah. Berdasarkan pemeriksaan, ada tanda bintik merah di lengan yang ternyata akibat kondisi DBD.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">Vaksin mencegah risiko terpapar dan kematian<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemberian vaksin memang bisa menyebabkan beberapa reaksi yang normal, layaknya tubuh ketika melawan penyakit. Seperti demam, nyeri otot, lapar, atau bahkan tak ada reaksi yang berarti. Karena pada dasarnya, vaksin ibarat \u2018latihan\u2019 bagi imunitas kita untuk mengenali pergerakan virus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tidak 100% mencegah paparan virus, namun membuat gejalanya jauh lebih ringan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi beberapa golongan yang rentan namun masih bisa menerima vaksin, dapat terhindar dari risiko yang lebih fatal, seperti gejala yang berat dan kematian.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">GSI mengajak untuk berbagi di tengah dampak pandemi<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyadari efek pandemi yang memukul perekonomian dan finansial, namun juga mengharuskan masyarakat menjaga kesehatan, GSI Lab mengajak kita semua dalam program berbagi. Yakni meringankan beban saudara kita yang kesulitan mendapatkan fasilitas swab PCR untuk memastikan kondisi saat bergejala. Gerakan baik ini bisa kita simak lebih <\/span><a href=\"https:\/\/benihbaik.com\/campaign\/tes-pcr-gratis-untuk-masyarakat\"><span style=\"font-weight: 400;\">lengkapnya di sini.<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Nantinya seluruh bantuan akan teralokasi untuk program <\/span><a href=\"https:\/\/www.gsilab.id\/id\/swab-save\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">swab gratis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> bagi mereka yang membutuhkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/omicron-orang-dewasa\/\">4 Gejala Omicron Pada Orang Dewasa yang Patut Diwaspadai<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Edukasi untuk melakukan vaksinasi tak hentinya bergema. Hal ini untuk menuju kepada pemulihan bangsa yang lebih baik. Karena pandemi yang sudah masuk tahun ketiga ini, apabila muncul gelombang-gelombang baru, juga akan memberi dampak kepada seluruh masyarakat. Jangan lewatkan kesempatan untuk vaksin, demi kesehatan dan keselamatan bersama. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski menjadi varian yang fatality ratenya tergolong ringan, perlu kita ketahui bahaya Omicron. Ada beberapa yang termasuk dalam golongan rentan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2476,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"_zengeo_excluded":false,"_zengeo_faq":[],"_zengeo_takeaways":[],"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[235,386,219,343,245],"class_list":["post-2475","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-covid19","tag-bahaya-omicron","tag-covid-19","tag-omicron","tag-varian-virus-corona"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog -<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-02-21T14:31:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"700\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"395\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"gilang Ayu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"gilang Ayu\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"gilang Ayu\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac\"},\"headline\":\"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog\",\"datePublished\":\"2022-02-21T14:31:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/\"},\"wordCount\":962,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/02\\\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg\",\"keywords\":[\"#Covid19\",\"bahaya omicron\",\"covid-19\",\"omicron\",\"varian virus corona\"],\"articleSection\":[\"Berita\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/\",\"name\":\"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/02\\\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg\",\"datePublished\":\"2022-02-21T14:31:37+00:00\",\"description\":\"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/02\\\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/02\\\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg\",\"width\":700,\"height\":395,\"caption\":\"Bahaya Omicron bagi yang belum vaksin\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/bahaya-omicron\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Tanyadna\",\"description\":\"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"alternateName\":\"Tanyadna\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Tanyadna\",\"alternateName\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/id\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png\",\"width\":2272,\"height\":756,\"caption\":\"Tanyadna\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac\",\"name\":\"gilang Ayu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi\",\"caption\":\"gilang Ayu\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/tanyadna.id\\\/blog\\\/author\\\/gilang\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog -","description":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog -","og_description":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog","og_url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/","article_published_time":"2022-02-21T14:31:37+00:00","og_image":[{"width":700,"height":395,"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"gilang Ayu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"gilang Ayu","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/"},"author":{"name":"gilang Ayu","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac"},"headline":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog","datePublished":"2022-02-21T14:31:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/"},"wordCount":962,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg","keywords":["#Covid19","bahaya omicron","covid-19","omicron","varian virus corona"],"articleSection":["Berita"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/","name":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg","datePublished":"2022-02-21T14:31:37+00:00","description":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#primaryimage","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Bahaya-Omicron-bagi-yang-belum-vaksin.jpeg","width":700,"height":395,"caption":"Bahaya Omicron bagi yang belum vaksin"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/bahaya-omicron\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ini Bahaya Omicron bagi yang Belum Vaksin Menurut Epidemiolog"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","name":"Tanyadna","description":"Informasi Tes DNA dan Kesehatan Genetik","publisher":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization"},"alternateName":"Tanyadna","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#organization","name":"Tanyadna","alternateName":"https:\/\/tanyadna.id\/id\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","contentUrl":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/cropped-tanyadnalogo-scaled-2.png","width":2272,"height":756,"caption":"Tanyadna"},"image":{"@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/#\/schema\/person\/53cff5d22a75f3e659772e62ddbb97ac","name":"gilang Ayu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/aebea9d15a1829652f14476e594a6d97bf595c0a67f1419cd1577b8856068a15?s=96&d=initials&r=g&initials=gi","caption":"gilang Ayu"},"url":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/author\/gilang\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2475"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2475\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2479,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2475\/revisions\/2479"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2476"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tanyadna.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}