# Berapa Gelas Kopi Sehari? Jawabannya Ada di DNA

> Source: https://tanyadna.id/blog/tes-dna-kopi/
> Author: Euginia Listiani Singgih, PhD
> Published: 2026-09-02
> Updated: 2026-09-02

Tes DNA mulai digunakan untuk membantu memahami bagaimana tubuh memetabolisme kafein dan mengapa efek kopi bisa berbeda dari satu individu ke individu lainnya.

Dalam dekade terakhir ini, Indonesia memiliki budaya ngopi yang sangat kuat. Dari kopi tubruk di warung sederhana hingga specialty coffee di kafe modern, kopi telah menjadi bagian gaya hidup sehari-hari.

Namun, pernahkah Anda bertanya mengapa ada orang yang bisa minum tiga hingga empat cangkir kopi sehari tanpa masalah, sementara sebagian lainnya merasa berdebar hanya setelah satu cangkir? Jawabannya ternyata tidak selalu berkaitan dengan kebiasaan atau toleransi. Dalam banyak kasus, faktor genetik atau DNA ikut berperan.

Perkembangan ilmu nutrigenomics membuka pemahaman baru bahwa respons tubuh terhadap makanan dan minuman, termasuk kopi, dapat dipengaruhi variasi gen yang dimiliki setiap orang. Tes DNA untuk kopi kini mulai digunakan untuk membantu memahami bagaimana tubuh memetabolisme kafein dan mengapa efek kopi bisa berbeda dari satu individu ke individu lainnya.

 https://www.youtube.com/watch?v=nnM1PvQcTLc

#### Hubungan antara Genetik dan Kebiasaan Minum Kopi

Penelitian menunjukkan bahwa variasi gen tertentu dapat memengaruhi kecepatan tubuh memproses kafein, tingkat sensitivitas terhadap kopi, kecenderungan mengalami kecemasan setelah minum kopi, hingga kualitas tidur setelah konsumsi kafein.

Tes nutrigenomics adalah pemeriksaan genetik yang menganalisis variasi DNA yang berkaitan dengan metabolisme nutrisi dan respons tubuh terhadap zat tertentu. Dalam konteks kopi, tes ini biasanya mengevaluasi gen yang berhubungan dengan metabolisme kafein, sensitivitas terhadap kafein, respons neurologis terhadap kopi, dan kecenderungan konsumsi kafein.

Beberapa gen yang paling sering dikaji adalah CYP1A2 dan ADORA2A. Kedua gen ini telah lama dikaitkan dengan bagaimana tubuh dan otak merespons kafein.

Baca juga: [Minum Kopi untuk Mencegah dan Mengobati Covid-19?](https://tanyadna.id/blog/kopi-mencegah-covid/)

#### Peran Tes DNA dalam Memahami Efek Kopi bagi Tubuh

##### 1. Apakah Anda fast atau slow caffeine metabolizer

Gen CYP1A2 berperan dalam proses pemecahan kafein di hati. Variasi gen ini membantu menentukan apakah seseorang termasuk metabolizer cepat atau lambat. Orang dengan metabolisme cepat cenderung membersihkan kafein dari tubuh lebih cepat dibandingkan metabolisme lambat. Akibatnya, durasi efek kopi dapat berbeda secara signifikan. Informasi ini sering menjadi dasar untuk memperkirakan toleransi individu terhadap konsumsi kopi.

##### 2. Risiko mengalami jantung berdebar atau gelisah

Tidak semua orang merasakan kopi dengan cara yang sama. Gen ADORA2A dikaitkan dengan sensitivitas tubuh terhadap kafein dan risiko gangguan kecemasan. Variasi pada gen tersebut dikaitkan rasa gelisah dan kecemasan berlebih setelah konsumsi kafein. Oleh karena itu, orang dengan karakteristik gen tertentu mungkin lebih rentan mengalami jantung berdebar, rasa gelisah, kecemasan, dan tremor ringan, setelah mengonsumsi kopi dalam jumlah sama dibandingkan orang lain.

##### 3. Kemungkinan gangguan tidur akibat kopi

Apakah Anda pernah bertanya-tanya, mengapa teman Anda bisa minum kopi pukul 9 malam dan tetap tidur nyenyak? Salah satu penjelasannya mungkin berasal dari faktor genetik.

Gen ADORA2A juga terkait sensitivitas terhadap efek kafein pada sistem saraf dan tidur. Variasi tertentu dapat membuat seseorang lebih sulit untuk tertidur serta rentan mengalami gangguan tidur setelah konsumsi kopi. Karena itu, sebagian orang mungkin perlu membatasi kopi pada sore atau malam hari.

##### 4. Respons terhadap efek kognitif kopi

Kopi tidak hanya memengaruhi energi, tetapi juga perhatian, fokus, dan fungsi otak lainnya. Kafein dalam kopi merupakan zat stimulan alami yang membantu otak terasa lebih siaga dan fokus. Menariknya, pengaruh kafein pada fungsi otak dipengaruhi varian genetik masing-masing individu. Efek ini tidak hanya berasal dari kafein, tetapi juga dari berbagai senyawa bioaktif lain yang terdapat dalam kopi.

Baca juga: [Mengapa Nutrigenomics Test dari TanyaDNA Penting](https://tanyadna.id/blog/mengapa-nutrigenomics-test-dari-tanyadna-penting-untuk-menjaga-berat-badan-ideal-dan-pola-makan-sehat/)

##### 5. Kafein dan performa olahraga

Kafein dapat meningkatkan performa olahraga. Konsumsi suplemen mengandung kafein diketahui dapat meningkatkan kekuatan otot. Namun, efek tersebut juga bergantung pada variasi genetik masing-masing. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan performa olahraga yang disebabkan kafein hanya ditemukan pada orang-orang dengan varian genetik tertentu.

#### Berapa Gelas Kopi Sehari yang Ideal?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul dalam dunia kopi. Sayangnya tidak ada angka universal yang cocok untuk semua orang.

Untuk mendapatkan hasil performa olahraga yang maksimal, seseorang disarankan untuk mengonsumsi kafein sebanyak 3-6 mg/kg berat badan sekitar 60 menit sebelum latihan. Beberapa kesehatan internasional merekomendasikan konsumsi hingga sekitar 400 mg kafein per hari sebagai batas aman bagi sebagian besar orang dewasa sehat. Namun angka ini jauh lebih kecil pada ibu hamil dan menyusui, yaitu sekitar 300 mg per hari.

Pada prinsipnya, kebutuhan setiap individu dapat berbeda bergantung pada genetika, kondisi kesehatan, dan sensitivitas pribadi, yang dapat diketahui dari tes nutrigenomics. Alih-alih mengikuti angka umum semata, seseorang dapat memahami apakah tubuhnya cenderung memetabolisme kafein dengan cepat atau lambat.

Sudahkah kamu ngopi hari ini? Yuk ngopi!

#### Referensi

1. Yang, A., Palmer, A. A., & De Wit, H. (2010). Genetics of caffeine consumption and responses to caffeine. Psychopharmacology, 211(3), 245-257.
2. Cornelis, M. C., Byrne, E. M., Esko, T., Nalls, M. A., Ganna, A., Paynter, N., ... & North, K. E. (2015). Genome-wide meta-analysis identifies six novel loci associated with habitual coffee consumption. Molecular psychiatry, 20(5), 647-656.
3. Sachse, C., Brockmöller, J., Bauer, S., & Roots, I. (1999). Functional significance of a C→ A polymorphism in intron 1 of the cytochrome P450 CYP1A2 gene tested with caffeine. British journal of clinical pharmacology, 47(4), 445-449.
4. Hohoff, C., Mullings, E. L., Heatherley, S. V., Freitag, C. M., Neumann, L. C., Domschke, K., ... & Deckert, J. (2010). Adenosine A2A receptor gene: Evidence for association of risk variants with panic disorder and anxious personality. Journal of psychiatric research, 44(14), 930-937.
5. Bodenmann, S., Hohoff, C., Freitag, C., Deckert, J., Rétey, J. V., Bachmann, V., & Landolt, H. P. (2012). Polymorphisms of ADORA2A modulate psychomotor vigilance and the effects of caffeine on neurobehavioural performance and sleep EEG after sleep deprivation. British journal of pharmacology, 165(6), 1904-1913.
6. Retey, J. V., Adam, M., Honegger, E., Khatami, R., Luhmann, U. F. O., Jung, H. H., ... & Landolt, H. P. (2005). A functional genetic variation of adenosine deaminase affects the duration and intensity of deep sleep in humans. Proceedings of the National Academy of Sciences, 102(43), 15676-15681.
7. Kapellou, A., King, A., Graham, C. A., Pilic, L., & Mavrommatis, Y. (2023). Genetics of caffeine and brain-related outcomes–a systematic review of observational studies and randomized trials. Nutrition Reviews, 81(12), 1571-1598.
8. Koníčková, D., Menšíková, K., Plíhalová, L., & Kaňovský, P. (2025). Effects of active compounds and their metabolites associated with coffee consumption on neurodegenerative disease. Nutrition Research Reviews, 38(2), 540-545.
9. Grgic, J., Trexler, E. T., Lazinica, B., & Pedisic, Z. (2018). Effects of caffeine intake on muscle strength and power: a systematic review and meta-analysis. Journal of the International Society of Sports Nutrition, 15(1), 11.
10. Messenburger, G. P., Nuñez, F. F., Porepp, O., das Neves Collares, L., Delpino, F. M., de Barros, C. C., & Pieniz, S. (2025). Influence of the CYP1A2 genotype on the exercise performance of physically active individuals under caffeine supplementation: A systematic review. Nutrition Research.
11. Guest, N. S., VanDusseldorp, T. A., Nelson, M. T., Grgic, J., Schoenfeld, B. J., Jenkins, N. D., ... & Campbell, B. I. (2021). International society of sports nutrition position stand: caffeine and exercise performance. Journal of the international society of sports nutrition, 18(1), 1.
12. Temple, J. L., Bernard, C., Lipshultz, S. E., Czachor, J. D., Westphal, J. A., & Mestre, M. A. (2017). The safety of ingested caffeine: a comprehensive review. Frontiers in psychiatry, 8, 80.

#### ⚠️ Disclaimer

Informasi ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.
