# Apakah Anak Bisa Mewarisi Trauma Orangtua? Ini Penjelasan Ilmiahnya

> Source: https://tanyadna.id/blog/apakah-trauma-orang-tua-menurun-ke-anak/
> Author: Halida Ulfah, M.Psi., Psikolog
> Published: 2026-11-04
> Updated: 2026-11-04

Orangtua tidak selalu menyadari bahwa pola pengasuhan yang diterapkan merupakan bagian dari pengalaman masa lalu mereka sendiri.

Pernahkah kamu menyadari bahwa ada pola emosi atau perilaku tertentu dalam dirimu yang ternyata juga dimiliki oleh orangtuamu? Misalnya, mudah merasa cemas, takut melakukan kesalahan, sulit mengekspresikan emosi, atau selalu merasa harus menyenangkan orang lain agar diterima. Padahal, kamu mungkin tidak pernah mengalami peristiwa traumatis yang sama seperti yang dialami orangtuamu. Lantas, dari mana pola tersebut berasal?

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai *intergenerational trauma* atau trauma antargenerasi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga dapat memengaruhi generasi berikutnya melalui berbagai mekanisme biologis, psikologis, dan sosial.

Menurut Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D., seorang ahli biologi molekuler, pemahaman mengenai fenomena ini dapat dikaji melalui kombinasi ilmu *neuroscience*, psikologi perkembangan, dan epigenetik.

 https://www.youtube.com/shorts/lG9oE7xoulk

#### Memahami *Intergenerational Trauma*

*Intergenerational trauma* merupakan kondisi ketika dampak pengalaman traumatis yang dialami oleh satu generasi memengaruhi kondisi psikologis dan pola kehidupan generasi berikutnya.

Pengalaman traumatis tersebut dapat berasal dari berbagai situasi, seperti:

- **Trauma individual:** kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, pengabaian emosional, atau kehilangan orang yang berarti.
- **Trauma kolektif dan historis:** perang, bencana alam, diskriminasi, konflik sosial, maupun krisis ekonomi berkepanjangan.

Ketika seseorang mengalami stres berat tanpa mendapatkan kesempatan untuk memproses dan memulihkan pengalamannya, respons stres tubuh dapat menjadi lebih mudah teraktivasi. Hal ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia, membangun hubungan, mengelola emosi, hingga menjalankan peran sebagai orangtua. Tanpa disadari, pengalaman yang belum terselesaikan tersebut bisa terbawa ke dalam pola pengasuhan dan interaksi sehari-hari dengan anak.

Baca juga: [*Gaslighting*: Tanda, Dampak Psikologis, dan Cara Menghadapinya](https://blog.tanyadna.id/gaslighting-tanda-dampak/)

#### Bagaimana Trauma Dapat Memengaruhi Generasi Berikutnya?

Secara umum, terdapat dua jalur utama yang dapat menjelaskan bagaimana dampak trauma diteruskan antargenerasi, yaitu melalui mekanisme biologis dan mekanisme psikologis maupun perilaku.

**1. Jalur biologis: mengenal peran epigenetik**

Selama ini, kita mengenal DNA sebagai materi genetik yang membawa informasi biologis dari orangtua kepada anak. Namun, ada satu hal menarik dalam ilmu biologi modern: Ekspresi gen ternyata juga dapat dipengaruhi lingkungan dan pengalaman hidup.

Fenomena ini dikenal sebagai epigenetik. Epigenetik mempelajari perubahan dalam regulasi atau ekspresi gen tanpa mengubah urutan DNA itu sendiri. Salah satu mekanismenya adalah metilasi DNA, yaitu proses penambahan gugus kimia tertentu yang dapat memengaruhi aktivitas gen. Pengalaman stres berat dan berkepanjangan diketahui dapat berkaitan dengan perubahan regulasi biologis, termasuk sistem yang mengatur respons stres tubuh.

Dalam penelitian mengenai trauma antargenerasi, para ilmuwan mulai menemukan kemungkinan bahwa perubahan epigenetik tertentu dapat berperan dalam memengaruhi respons stres pada generasi berikutnya. Salah satu sistem yang banyak diteliti adalah *Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) Axis*, yaitu sistem yang berperan dalam mengatur respons tubuh terhadap stres melalui hormon kortisol.

Namun penting untuk dipahami bahwa penelitian mengenai pewarisan epigenetik trauma pada manusia masih terus berkembang. Belum ada bukti bahwa pengalaman traumatis orangtua secara otomatis mengubah DNA sel telur atau sperma dan membuat anak pasti mengalami kecemasan atau gangguan psikologis tertentu. Dengan kata lain, faktor biologis dapat berkontribusi, tetapi bukan satu-satunya penentu kondisi psikologis seseorang.

**2. Jalur psikologis: pola pengasuhan dan pembelajaran emosional**

Selain faktor biologis, salah satu jalur yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah pola interaksi antara orangtua dan anak. Orangtua yang memiliki pengalaman traumatis dan belum mendapatkan pemulihan yang memadai mungkin mengalami kesulitan dalam mengelola respons emosionalnya.

Misalnya:

- **Pola pengasuhan yang reaktif.** Pengalaman traumatis dapat membuat orangtua menjadi sangat protektif, mudah khawatir, sulit memberikan kepercayaan, atau justru cenderung menarik diri secara emosional dari anak.
- ***Modeling* dan *mirroring*.** Anak belajar memahami dunia melalui pengamatan terhadap orang-orang terdekatnya. Ketika orangtua terbiasa merespons situasi dengan ketakutan, kecemasan, atau kemarahan, anak dapat mempelajari pola respons serupa.
- **Transmisi keyakinan dan pola pikir.** Anak dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya harus selalu sempurna agar diterima, tidak boleh melakukan kesalahan, atau tidak boleh menunjukkan emosi negatif.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah orangtua tidak selalu menyadari bahwa pola pengasuhan yang diterapkan merupakan bagian dari pengalaman masa lalu mereka sendiri. Seringkali, pola tersebut justru dianggap sebagai sesuatu yang normal karena sudah berlangsung selama bertahun-tahun dalam keluarga.

Baca juga: [Stres Super *El Nino*: Cuaca Ekstrem Membuat Mental Goyah](https://blog.tanyadna.id/stres-super-el-nino/)

#### Bagaimana Memutus Rantai Trauma Antargenerasi?

Kabar baiknya, pengalaman traumatis tidak harus menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya maupun bagaimana ia kelak membesarkan anak. Trauma antargenerasi bukanlah sebuah takdir. Dengan kesadaran dan proses pemulihan yang tepat, pola-pola yang tidak sehat dapat dikenali dan diubah. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

**1. Mengenali pola emosi dan perilaku diri sendiri (*self-awareness*).**

Mulailah dengan mengamati respons emosional dan perilaku yang selama ini muncul dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mengapa kita sangat takut mengecewakan orang lain? Mengapa kita merasa bersalah ketika mengatakan tidak? Atau mengapa kita sulit menerima kesalahan, baik dari diri sendiri maupun orang lain?

Cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apakah respons ini benar-benar sesuai dengan situasi yang sedang saya hadapi, atau justru merupakan pola pertahanan yang sudah saya pelajari sejak kecil?

Mengenali asal-usul suatu pola bukan berarti menyalahkan orangtua, melainkan memahami diri sendiri dengan lebih utuh.

**2. Belajar membangun kembali rasa aman dalam diri (*reparenting*).**

Proses pemulihan juga melibatkan kemampuan untuk memberikan perhatian, penerimaan, dan dukungan emosional kepada diri sendiri. Konsep ini sering dikaitkan dengan *reparenting*, yaitu upaya membangun pengalaman pengasuhan emosional lebih sehat bagi diri sendiri, terutama pada aspek-aspek yang mungkin tidak terpenuhi selama masa kanak-kanak.

Kita dapat mulai dengan belajar mengenali kebutuhan emosional, menerima perasaan tanpa menghakimi, serta mengembangkan cara lebih adaptif dalam menghadapi situasi sulit. Latihan regulasi emosi seperti teknik pernapasan, *grounding*, dan *mindfulness* juga dapat membantu mengelola respons stres.

**3. Membangun batasan yang sehat (*healthy boundaries*).**

Memutus rantai trauma bukan berarti harus memutus hubungan dengan keluarga. Namun, kita perlu memahami bahwa menjaga hubungan tetap baik tidak berarti harus selalu membenarkan atau menerima setiap perilaku yang menyakiti.

Belajar mengatakan tidak, menyampaikan kebutuhan, dan menetapkan batasan merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan psikologis. Kita tetap dapat menghargai orangtua sekaligus memilih untuk tidak mengulang pola pengasuhan yang sama.

**4. Memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk pulih melalui bantuan profesional.**

Ada pengalaman yang tidak selalu mudah dipahami atau diproses seorang diri. Berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental yang memiliki kompetensi dalam penanganan trauma dapat membantu individu mengenali pola respons, memproses pengalaman emosional, dan mengembangkan strategi koping yang lebih adaptif.

#### Memilih Pola yang Ingin Diteruskan

Tidak semua hal yang kita pelajari dari orangtua harus kita bawa ke dalam kehidupan berikutnya. Kita mungkin tumbuh dalam keluarga yang tidak terbiasa membicarakan perasaan.

Kita mungkin belajar bahwa menangis adalah tanda kelemahan, bahwa kesalahan tidak dapat ditoleransi, atau bahwa kasih sayang harus selalu diperjuangkan. Namun, ketika kita mulai menyadari pola-pola tersebut, kita memiliki kesempatan untuk membangun cara hidup dan relasi yang berbeda.

Memahami trauma antargenerasi bukan tentang mencari siapa yang harus disalahkan atas pengalaman masa lalu. Ini tentang menyadari bagaimana pengalaman tersebut membentuk diri kita, sekaligus mengambil tanggung jawab atas pola yang ingin kita ubah. Kita memang tidak selalu bisa memilih pengalaman masa kecil yang membentuk diri kita. Namun, kita bisa mulai belajar memilih pengalaman seperti apa yang ingin kita hadirkan bagi generasi berikutnya.

**Disclaimer**
Informasi ini bertujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional. Jika Anda memiliki gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter.
